Jenis Kelamin dan Gender

Manusia secara Biologis dan Sosial

Image Credit AkuKita Wanita

Istilah jenis kelamin dan gender sangat melekat dengan kehidupan manusia, berawal ketika ia lahir (tumbuh) dan mengalami perkembangan (kemampuan dan keterampilan). Meskipun begitu, kedua istilah ini seringkali dicampur adukkan, bahkan memiliki kesamaan arti di dalam pandangan masyarakat. Padahal, secara ilmiah, jenis kelamin dan gender memiliki arti serta proses pembentuk yang berbeda, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa ada keterkaitan diantara keduanya. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kesalahpahaman masyarakat dalam menggunakan kedua istilah tersebut.

Jenis kelamin merupakan atribut secara biologis yang dimiliki oleh manusia semenjak ia dilahirkan. Seperti yang dikatakan oleh Mansour Fakih:

“Manusia berjenis kelamin laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (kalamenjing) dan memproduksi sperma. Kaum perempuan memiliki alat produksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki alat vagina dan mempunyai alat menyusui” (Fakih, 1996, p. 8).

Artinya, setiap manusia memiliki alat-alat produksi yang melekat pada dirinya dan tidak bisa dirubah, apalagi dipertukarkan satu sama lain. Pembentukan jenis kelamin pada manusia juga tidak terlepas dari unsur biologis lainnya seperti kandungan kromosom. Menurut Simone De Beauvoir, kromosom dibawa oleh sperma yang memiliki ekor menuju sel telur yang tersimpan atau tertutup sehingga menghasilkan proses pembuahan (Beauvoir, 1975, p. 44). Kemudian menghasilkan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Jadi, konsep jenis kelamin mengacu batasan biologis antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk melalui fungsi alat reproduksi (Molo, 1993).

Dari proses biologis ini, Simone De Beauvoir melihat bahwa peranan reproduksi memperlihatkan laki-laki lebih bersifat esensial ketimbang perempuan. Tetapi, Beauvoir memberikan catatan bahwa unsur biologis tidak serta merta mendefinisikan perempuan menjadi tidak esensial. Menurutnya, pendefinisian perempuan dimanifestasikan melalui kegiatan dan apa yang ada di masyarakat (Salviana & Soedarwo, n.d.). Inilah yang kemudian disebut sebagai gender, peranan individu di dalam masyarakat.

Berkaitan dengan perempuan, Beauvoir mengatakan “one is not born, but rather becomes a women (Lestari, 2015)”. Dalam kajian gender, istilah perempuan dan laki-laki merupakan hasil dari adanya konstruksi sosial. Lebih mudahnya, ada ketentuan, syarat, skill perempuan dan skill laki-laki (kemampuan) yang membuat individu berperan seperti apa yang dibawa secara biologis.

Bagaimana gender bisa terjadi di masyarakat?

Salah satu fenomena gender di masyarakat terjadi karena adanya interaksi sosial yang didasarkan pada pembagian peran dalam kelompok sosial. Interaksi sosial antar individu detentukan melalui power yang dimiliki oleh seseorang. Power bisa muncul dari kemampuan seseorang dalam memaksakan kehendaknya, baik secara individu ataupun budaya yang dimiliki kelompok sosial. Misalkan: budaya patriarki dalam lingkup keluarga yang membentuk peranan perempuan berada di dalam kendali laki-laki. Meskipun laki-laki tidak memiliki kemampuan dalam memaksakan kehendaknya maka budaya mempengaruhi peranan perempuan dalam melakukan aktivitasnya secara otomatis. Budaya seperti ini menurut Beauvoir merupakan produk dari sejarah, “prehistoric times when physical force was very important, those who are strongest had all the right and power” (Lestari, 2015). Oleh karena itu, interaksi sosial kemudian menjadi begitu hierarkhis.

Meskipun begitu, gender terhadap laki-laki dan perempuan bisa berubah sesuai dengan budaya yang membentuk masyarakat. Salah satu contohnya adalah Calalai dari Suku Bugis yaitu seorang perempuan yang berpenampilan dan bekerja seperti seorang laki-laki di dalam kesehariannya (Darajingga, 2018). Namun, secara sosial, Calalai tidak dianggap sebagai laki-laki dan secara pribadi tidak menginginkan untuk menjadi lelaki. Selain itu, ada juga Calabai yaitu seorang laki-laki yang menyerupai wanita (Darajingga, 2018). Dia juga tidak dianggap sebagai wanita dan juga tidak menginginkan menjadi seorang wanita. Artinya, struktur sosial yang dalam hal ini adalah budaya juga berfungsi dalam menentukan peranan seseorang, baik laki-laki atau perempuan.

Dari beberapa hal yang dituliskan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki atribut biologis yang dibawa ketika ia lahir (jenis kelamin) dan menerima apa yang diberikan kepada masyarakat secara sosial (gender). Jadi, kita sebagai individu seringkali menerima hal-hal yang diberikan oleh masyarakat yang ditentukan oleh jenis kelamin. Padahal, mungkin saja hal itu tidak semestinya terjadi apabila kita secara bebas bisa menentukan identitas secara mandiri. Tapi saya rasa, itu sangat sulit untuk dilakukan karena kita adalah hasil dari konstruksi sosial. Oleh sebab itu, nampaknya kita perlu mempertanyakan kembali, apakah peranan kita merupakan bagian dari apa yang kita inginkan?

Selain memberikan pencerdasan melalui artikel, AkuKita Wanita juga memberikan tips and trick yang ditampilkan dalam bentuk newsletter.

Penulis : Raka, Head of Medium Creative Content

Editor : Anis, Head of Medium Strategic Implementation

Kontributor : Sarifatul, Head of Creative Promotion

Referensi:

Beauvoir, S. D., 1975. The Second Sex. Harmondsworth: Penguin Books.

Darajingga, 2018. Selain Pria dan Wanita, ini 3 jenis gender lain ala Suku Bugis. [Online] Available at: https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/hype/fun-fact/amp/sista-noor-elvina/selain-pria-dan-wanita-ini-3-jenis-gender-lain-ala-suku-bugis-c1c2
[Accessed 17 05 2021].

Fakih, M., 1996. Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lestari, F., 2015. seks, gender dan konstruksi sosial. [Online]
Available at: http://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/seks-gender-dan-konstruksi-sosial
[Accessed 17 05 2021].

Molo, M., 1993. Sex dan Gender: apa dan mengapa. Populasi, 4 (2), pp. 85–92.

Salviana, V. & Soedarwo, n.d. Pengertian Gender dan Sosialisasi Gender. s.l.:s.n.

--

--

--

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
AkuKita Wanita

AkuKita Wanita

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

More from Medium

Running Dialogue and bad puns

Gender Roles in North Korea

Opening Up Buildings for Black Businesses: the positive impact of physical spaces