Krisis Identitas

Dari Eksistensialis Menjadi Perempuan

Image Credit AkuKita Wanita

Identitas merupakan suatu hal yang berada pada diri setiap manusia. Meskipun begitu, bagi saya, identitas bukanlah suatu hal yang mudah untuk ditelusuri. Hal ini disebabkan proses pembentukan identitas melibatkan sejarah kehidupan setiap orang, sejak ia lahir bahkan setelah meninggal dunia. Dengan kata lain, identitas adalah sesuatu hal “melekat” pada diri kita dan yang “dilekatkan” oleh orang lain. Jadi, identitas dibentuk oleh individu dan orang lain untuk mengakui “keberadaan” kita. Dalam konteks “krisis identitas” individu sedang terombang-ambing dalam proses pembentukan identitas secara sosial yang direfleksikan dan menghasilkan ragam pertanyaan tentang eksistensi.

Dalam “The Four Stages of Life”, Mark Manson memperlihatkan bahwa krisis identitas terjadi pada usia 20–35. Ia mengategorikannya ke dalam “Quarter Life Crisis”, yakni saat seseorang sedang berusaha untuk menjadi diri yang sesungguhnya dan terbaik. Dari pernyataan ini, kita sudah dapat memahami bahwa “identitas” berhubungan dengan “menjadi diri” sehingga krisis identitas muncul bersamaan dengan krisis eksistensi.

Eksistensialisme, Identitas dan Perempuan

Eksistensialisme merupakan salah satu cabang filsafat yang mempertanyakan kebebasan dan keterarahan hidup manusia. Mungkin, setiap dari kita sering mempertanyakan perihal eksistensialis kepada diri sendiri seperti, “siapakah diriku yang sebenarnya?”, “apa tujuan hidupku?”, “apakah aku tidak berguna menjadi seorang manusia?”, dan lain-lain. Saya sangat yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan dengan model seperti itu muncul berdasarkan pengalaman kita di dunia nyata. Entah kita merasa insecure karena melihat orang lain lebih sukses, melihat diri sendiri yang selalu mengecewakan orang lain, tidak berguna dan tidak bermanfaat sebab tidak bisa berbuat apa-apa, dan lain-lain. Pengalaman tersebut merupakan asal-muasal dari eksistensialisme yang terjadi pada diri manusia.

Menurut salah satu tokoh eksistensialisme, yaitu Jean Paul Sartre, manusia memiliki kebebasan untuk mencipta dan memberi makna pada keberadaannya dan merealisasikan rancangan dirinya sendiri. Demi mewujudkan eksistensinya, seorang manusia harus menjadi subyek yang aktif dalam keadaan yang aktual, berbuat, menjadi, dan merencanakan sesuatu. Dengan cara inilah seorang manusia akan “diakui keberadaannya” oleh orang lain. Artinya, eksistensi merupakan wujud relasional antarmanusia.

Di sisi lain, menurut Sartre, eksistensi bisa berjalan sesuai prinsip identitas tetapi bisa juga tidak. Eksistensi yang menaati prinsip identitas disebut l’etre-en-soi (berada pada dirinya sendiri) yang berarti keberadaan diri seseorang diwujudkan secara jasmani. Eksistensi seseorang dimiliki secara tidak sadar. Sementara l’etre-pour-soi (berada untuk dirinya) tidak menaati prinsip identitas sebab manusia memiliki hubungan dengan keberadaannya. Manusialah yang menciptakan esensi, relasi, mengakui, dan bertanggung jawab pada benda-benda di sekelilingnya. L’etre-pour-soi berarti manusia secara sadar mewujudkan eksistensinya.

Logika l’etre-en-soi (berada pada dirinya sendiri) dan l’etre-pour-soi (berada untuk dirinya) merupakan dalil munculnya feminis eksistensial yang dikemukakan oleh partner Jean Paul Sartre, yaitu Simone De Beauvoir.

Menurut Simone De Beauvoir, perempuan tidak dapat mewujudkan l’etre-en-soi dan l’etre-pour-soi karena perempuan hanya sebagai etre pour les autres (ada untuk orang lain). Perempuan adalah sosok liyan “the otherbagi laki-laki di dalam sejarahnya. Kondisi-kondisi yang dimiliki oleh perempuan sebagai identitas yang mewujud dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Dominasi laki-laki kemudian menggambarkan perempuan yang salah satunya terjadi pada Revolusi Perancis seperti mitos perempuan dan sosok perempuan ideal. Padahal, itu merupakan bentuk penindasan definitif dari eksistensi perempuan. Eksistensi dan identitas perempuan ketika ia lahir dibentuk oleh tatanan masyarakat. Contohnya, diberikan boneka agar bisa merawat sesuatu karena kelak ia akan melakukannya. Meskipun terlampau jauh, kondisi ini menggambarkan bahwa perempuan memiliki identitas melekat di sepanjang hidupnya. Peran, kebebasan dan takdirnya tidak bisa ia tentukan. Sekalipun ia sudah bekerja, kondisi-kondisi seperti “berpenampilan menarik” menjadi kewajiban yang harus dimiliki perempuan.

Meskipun wacana seperti ini pernah berlaku dan mungkin membentuk sebagian diri perempuan secara tidak sadar, menurut Beauvoir, hal ini membuat status resmi perempuan tidak pernah setara dengan laki-laki. Walaupun mungkin terdapat perempuan yang nyaman dengan wacana tersebut, ia tetap memelihara konstruksi identitas terhadap perempuan. Sebagai sebuah ide, Beauvoir beranggapan bahwa seorang perempuan harus menjadi “perempuan bebas”.

Simone De Beauvoir mendefinisikan perempuan bebas sebagai perempuan yang memiliki keberanian dan kesadaran dalam menentukan pondasi hidupnya. Ia berhak menentukan pilihan bebasnya, keinginannya, dan berani menolak berbagai aturan yang membelenggu dirinya. Beauvoir juga memberikan kebebasan pada perempuan tanpa bentuk absolut untuk disebut sebagai perempuan. Namun, ia mengambil beberapa contoh sejarah perempuan yang memiliki kebebasan seperti Cleopatra dan Aspasia.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa krisis identitas merupakan gambaran dari “keberadaan” seseorang. Krisis tidak merujuk pada keburukan melainkan tindakan individu ketika merefleksikan pengalamannya. Perempuan dewasa ini sudah menuju pada kebebasannya dan tentunya hal itu tidak terlepas dari bagaimana perempuan merefleksikan dirinya di masa lalu. Redefinisi perempuan melalui bahasa sudah dilakukan oleh para perempuan di Indonesia dan perlahan mengubah identitas tentang perempuan di masyarakat. Perempuan di masa lalu merupakan identitas secara tidak sadar dan saat ini eksistensi perempuan membentuk kesadaran akan dirinya sendiri.

Jadi, bagaimana eksistensi dan identitas perempuan menurut kalian?

AkuKita Wanita juga memberikan pencerdasan di newsletter yang dikirim melalui e-mail dua minggu sekali.

Penulis: Raka Gunara

Editor: Azaina Farah Sabrina

Sumber:

Ni Putu Laksmi, W. B., & Anggita, N. M. (n.d.). Feminisme Eksistensial Simone De Beauvoir: Perjuangan Perempuan di Ranah Domestik. Jurnal Udayana, 1–13.

Yunus, F. M. (2011). Kebebasan Dalam FIlsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jurnal Al-Ulum, 267–282.

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
AkuKita Wanita

AkuKita Wanita

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

More from Medium

New Year, New Beginning

Managementg and Leadership in IT

Trust and Anonymity In DAOs

Dec. Week 2 | Around This Time LAST YEAR