Stereotip Perempuan dan Miskonsepsi yang Beredar

Pandangan Masyarakat terhadap Perempuan Masa Kini

Image Credit AkuKita Wanita

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata “perempuan”? Apakah jawabannya “cantik”, “indah”, “lemah”, “mengedepankan emosi”, atau mungkin “keibuan”?

Lalu, apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata “laki-laki”? Apakah jawabannya “kuat”, “harus bisa membetulkan atap rumah”, “mengangkat galon”, dan “tidak boleh menangis”?

Tahukah kamu bahwa jawaban-jawaban seperti di atas bukanlah sebuah fakta ilmiah melainkan hanya stereotip yang melekat?

Menurut KBBI Edisi Kelima Luar Jaringan (luring), stereotip artinya adalah 1 a berbentuk tetap; berbentuk klise; 2 n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Stereotipe atau stereotip terhadap gender tertentu lahir dari adanya bias gender yang melekat dan dikonstruksikan secara sosial dan budaya. Bahkan, hingga saat ini di Indonesia masih bisa kita temui dengan mudah mengenai stereotip terhadap kaum tertentu.

Miskonsepsi dan stereotip yang salah terhadap perempuan sebetulnya bukan hanya didapatkan dari kaum laki-laki saja, melainkan dari kaum perempuan itu sendiri. Hal ini disebabkan karena adanya confidence gap atau celah kepercayaan diri pada diri perempuan sehingga menimbulkan pandangan-pandangan tersendiri yang sebetulnya belum tentu benar.

Pembuktian ini dilakukan oleh Katty Kay dan Claire Shipman dari theatlantic.com yang saya kutip melalui tirto.id. Katty yang seorang lulusan dari universitas bergengsi dengan skill yang sangat mumpuni nyatanya masih minder dengan kemampuannya di bidang jurnalisme. Hal ini disebabkan ia merasa rekan laki-lakinya jauh lebih cepat dalam menerima promosi.

Tak jauh berbeda dengan pengalaman Katty, di lingkungan kita pun perempuan kerap kali mengalami kerendahdirian dalam hal kepercayaan diri. Contoh mudahnya adalah ketika perempuan menganggap bahwa dirinya harus bisa masak sehingga ketika ia tidak bisa masak atau tidak menyukai kegiatan masak, maka ia menganggap dirinya tidak pandai. Padahal, letak kepandaian seorang perempuan tidak hanya berupa mengurus dapur saja, tetapi bisa dengan lain hal, pandai mencari uang misalnya.

Letak kepandaian tiap orang berbeda-beda. Sayangnya, konstruksi sosial dan budaya telah menciptakan standarnya sendiri sehingga barang siapa yang tidak mengikuti standar tersebut, maka ia akan dicap aneh dan dipandang buruk. Inilah yang dinamakan stereotip. Terlebih lagi pada wanita. Berikut ini miskonsepsi stereotip yang sering melekat pada wanita.

Perempuan Harus Menikah Sebelum Usia 30 Tahun

“Kapan nikah?”

“Kapan hamil?”

“Sudah mau umur 30 loh, nggak takut jadi perawan tua?”

Dan sederet pertanyaan yang mendiskreditkan perempuan-perempuan muda lainnya. Yang membuat geleng-geleng kepala adalah pelaku dari semua pertanyaan ini diajukan oleh sesama perempuan! Padahal, seharusnya sesama perempuan harus saling mendukung, bukan menjatuhkan.

Standar kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang menikah, mencapai karier yang cemerlang, banyak uang, ataupun mengedepankan pendidikan. Kamu tidak boleh menyamaratakan standar hidup dan letak kebahagiaan orang lain dengan standar hidup yang kamu buat sendiri.

Ingat, konstruksi sosial dan budaya lahir disebabkan adanya kebiasaan, cara berpikir, dan kondisi lingkungan melalui adanya proses sosial yang mengakar sebagai suatu keyakinan pada pandangan tertentu secara subjektif. Untuk itu, kamu harus menyudahi pandangan dan stereotip yang subjektif ini guna menghapus adanya seksis yang bisa terjadi.

Perempuan keibuan dan menyukai anak kecil

Kebanyakan orang tua masih memiliki pandangan stereotip terhadap perempuan bahwa perempuan harus memiliki sifat keibuan dan wajib menyukai anak kecil. Jika ada perempuan yang tidak menyukai anak kecil, maka akan dianggap belum pantas berumah tangga.

Dikutip dari liputan6.com, melalui penelitian yang dilakukan oleh Center for Advanced Study, sebanyak sembilan wanita melayangkan keluhan mengenai perilaku anak-anak di dalam restoran cepat saji. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua perempuan menyukai anak kecil.

Wajar saja jika kamu tidak menyukai anak kecil. Tidak perlu memaksakan diri. Tunggu momen yang tepat hingga kamu benar-benar menyukai anak kecil secara alami dan tanpa harus dipaksa, dengan memiliki anak sendiri, misalnya.

Perempuan pandai membereskan rumah

Stereotip perempuan dan miskonsepsi yang beredar selanjutnya ialah harus pandai membereskan rumah. Faktanya, menurut penelitian dari State University of San Diego yang dikutip dari merdeka.com, memang betul bahwa kantor yang dihuni perempuan lebih bersih dan higienis dibanding laki-laki.

Namun, perlu diingat bahwa kemampuan bersih-bersih merupakan basic life skills atau kecakapan hidup dasar yang wajib dilakukan semua gender tak terkecuali. Bayangkan saja jika kamu hidup sendiri, apakah kamu akan tahan melihat rumahmu kotor dan penuh kecoa akibat tidak mau membersihkan rumah? Tentu sangat menjijikan, bukan?

Untuk itu, mulailah membersihkan rumahmu sendiri dimulai dari kamarmu. Ingat, jangan menyuruh orang lain untuk membersihkan kamarmu sendiri karena yang membuat kamarmu kotor adalah dirimu, maka kamu pulalah yang harus membersihkannya sendiri.

Perempuan adalah korbannya

Begitu maraknya stereotip bahwa perempuan adalah satu-satunya korban pelecehan seksual. Memang tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu digarisbawahi bahwa kejahatan pelecehan seksual tidak mengenal gender. Laki-laki pun bisa menjadi korbannya, contohnya kasus Gilang fetish kain jarik yang terjadi pada 2020 lalu atau kasus predator seksual Reynhard Sinaga yang keduanya sama-sama memiliki korban yakni bergender laki-laki.

Stereotip perempuan rentan menjadi korban pelecehan seksual tidak sepenuhnya salah, tetapi laki-laki pun bisa menjadi korbannya. Untuk itu, perlu diingat bahwa yang harus kita rangkul adalah sang korban, sebab korban dari kasus pelecehan seksual tidaklah mengenal gender.

Marah-marah karena PMS

Siapa bilang stereotip perempuan yang sedang PMS membuat mereka menjadi sering marah-marah? Faktanya adalah menjelang menstruasi, tubuh wanita mengalami perubahan hormon yang menyebabkan beberapa perubahan psikologis sehingga membuatnya menjadi lebih sensitif. Dari perubahan inilah yang memicu timbulnya kelelahan fisik, kram, hingga cemas.

Namun, PMS itu sendiri bukanlah penyebab dari mudah marah, bisa saja memang bawaan sifat yang pemarah atau mood yang sedang kacau.

Itulah beberapa stereotip dan miskonsepsi yang beredar mengenai perempuan. Adakah yang ingin menambahkan stereotip lain berikut faktanya? Yuk, tuliskan di kolom komentar!

AkuKita Wanita juga memberikan pencerdasan di newsletter yang dikirim melalui e-mail dua minggu sekali.

Penulis: Raissa Yulianti

Editor: Azaina Farah Sabrina

Sumber:

Augesti, Afra. (2018, November 12). 5 Stereotip Tentang Wanita yang Dibantah Oleh Para Ilmuwan. Global sains, pp. https://www.liputan6.com/global/read/3690147/5-stereotip-tentang-wanita-yang-dibantah-oleh-para-ilmuwan

Luzar, Laura Christina. (2015, Mei 18). Teori Konstruksi Realitas Sosial. Humaniora, pp. https://dkv.binus.ac.id/2015/05/18/teori-konstruksi-realitas-sosial/

Amalia, Rifda. Budaya dan Konstruksi Sosial: Bagaimana Kita Memahami Dunia. https://anotasi.com/budaya-dan-konstruksi-sosial-memahami-dunia/

Simbolon, Romasta. (2018, April 20). Menyoal Konstruksi Budaya terhadap Perempuan. Arsip, pp. https://analisadaily.com/berita/arsip/2018/4/21/542133/menyoal-konstruksi-budaya-terhadap-perempuan/

Wicaksono, Bayu. (2020, Juli 29). 10 Stereotip Cowok dan Cewek Ini Ternyata Dibenarkan Riset Ilmiah. Science experiment, pp. https://www.idntimes.com/science/experiment/bayu/10-stereotipe-tentang-laki-laki-dan-perempuan-ini-ternyata-dibenarkan-secara-ilmiah/10

Sjarief, Melarissa. (2015, Mei 15). Ada 13 Stereotipe Menyakitkan Tentang Perempuan yang Harus Dimusnahkan. Hype fun-fact, pp. https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/mela/ada-13-stereotipe-menyakitkan-tentang-perempuan-yang-harus-dimusnahkan/full

Redaksi Halodoc. (2017, Desember 12). Psikolog Sebut PMS Hanyalah Mitos, Benarkah?. Artikel, pp. https://www.halodoc.com/artikel/psikolog-sebut-pms-hanya-mitos-benarkah-

Kirnandita, Patresia. (2017, Maret 16). Ketika Perempuan Dinomorduakan Di Dunia Kerja. Sosial budaya, pp. https://tirto.id/ketika-perempuan-dinomorduakan-di-dunia-kerja-ckPK

Cahya, Indra. (2016, November 17). 9 Stereotip ‘Khas’ Wanita Yang Terbukti Benar Secara Ilmiah. Teknologi, pp. https://www.merdeka.com/teknologi/9-stereotip-khas-wanita-yang-terbukti-benar-secara-ilmiah.html?page=all

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
AkuKita Wanita

AkuKita Wanita

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

More from Medium

6 Modern Lifestyles That Damage Your Brain

Finding Happiness During the End of the World

Dark and light cups

8. Things I do when struggling with my own mental health — insights from a clinical psychologist

Card Ramblings 2022 #1