Overthinking dan Insecure

Diantara Pikiran dan Perkara Sosial

Image by AkuKita Wanita

alah satu kelebihan yang dimiliki oleh manusia ketimbang makhluk hidup lainnya adalah pikiran. Semua orang mampu berpikir, tapi tidak semua apa yang dipikirkan itu benar adanya. Lantas, apakah kita pernah berpikir apa yang dimaksud dengan “berpikir”? Apabila merujuk pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Lebih dalam lagi, menurut Prof. Dr. C Dewi Wulansari, berpikir merupakan proses refleksi yang terjadi secara teratur dan hati-hati dalam otak manusia (Amalaa, 2019). Apabila disimpulkan maka di dalam proses berpikir terdapat instropeksi diri yang melibatkan pengalaman dan kebiasaan yang menentukan keputusan dalam berpikir.

Disisi lain, tidak semua hal yang kita pikirkan itu benar adanya. Kita sering kali berpikir secara terus-menerus mengenai kekurangan, kesalahan dan masalah yang dihadapi. Padahal apa yang kita pikirkan masih angan-angan dan belum diketahui secara pasti. Pada konteks ini, kita telah mengalami apa yang disebut dengan overthinking. Dikutip dari tirto.id, overthinking dapat berupa ruminasi, ketika ia berhubungan dengan ingatan terus-menerus pada masa lalu, dan khawatir berlebihan, jika ia berhubungan dengan masa depan (Hadi, 2020).

Setiap orang bisa mengalami overthinking, baik laki-laki ataupun perempuan. Namun, menurut penelitian, perempuan lebih sering melakukan overthinking daripada laki-laki (Nareza, 2021). Hal ini disebabkan karena faktor biologis dan budaya yang ada di masyarakat. Walaupun overthinking dapat dialami oleh setiap orang, bukan berarti perilaku ini muncul secara tiba-tiba. Overthinking dapat dipicu dan memicu perilaku lainnya yaitu insecure. Insecure adalah istilah untuk perilaku seseorang yang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain (Sholikhah, 2021). Jadi, antara overthinking dan insecure memiliki keterkaitan satu sama lain meskipun kita bisa menarik batas diantara keduanya. Overthinking berada pada ranah berpikir (psikologis) sementara insecure berada pada ranah perbandingan (sosial). Lantas, apa kaitan diantara keduanya?

Menurut salah satu sosiolog asal Amerika Serikat yaitu Charles Horton Cooley, konsep diri seseorang terbentuk karena dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa orang lain berpendapat mengenai dirinya (Hayati, 2018). Konsep ini dikemukakan oleh Cooley dalam teorinya yaitu Looking Glass Self. Cooley mengibaratkan bahwa pengembangan diri seseorang berada di hadapan cermin, dimana cermin memantulkan apa yang ada di hadapannya sehingga seseorang dapat melihat dirinya. Ada 3 unsur di dalam Looking Glass Self (Hayati, 2018):

  • Seseorang membayangkan bagaimana dirinya tampak bagi orang lain di sekitarnya.
  • Seseorang menafsirkan respon dari orang lain.
  • Seseorang akan menginterpretasikan respon dari orang lain terhadap dirinya.

Jadi teman-teman, salah satu faktor yang membentuk diri kita adalah interaksi sosial. Dari interaksi dengan orang lain, kita menginterpretasikan bagaimana mereka memandang kita. Lalu menghasilkan sebuah penafsiran yang membentuk persepsi diri, baik secara psikologis maupun sosial yang didasarkan pada pengalaman. Persepsi kita mengenai diri sendiri menciptakan sebuah penilaian atau perbandingan yang sering kali kita sandingkan dengan orang lain dan membuahkan hasil yang negatif. Pandangan kita mengenai hal yang negatif menurutku adalah suatu kewajaran. Namun, hal itu ditentukan dengan bagaimana cara kita meresponnya. Jika kita merespon penilaian dari hasil perbandingan terhadap orang lain secara negatif maka insecure dan overthinking tidak dapat dipungkiri akan kita rasakan. Keduanya tentu memiliki dampak yang bisa kita rasakan. Dampak dari overthinking yaitu merusak komponen otak, mengganggu sistem pencernaan, berpotensi merusak organ jantung, mengganggu metabolisme tubuh, merusak kesehatan kulit dan lain sebagainya (Hadi, 2020). Sementara, insecure juga memiliki dampak yaitu perasaan tidak berguna, memiliki perasaan takut tidak diterima oleh masyarakat, kurang percaya diri dalam bersosialisasi dan sebagainya (Sholikhah, 2021).

Agar dampak dari adanya overthinking dan insecure dapat dikendalikan, aku punya 2 pesan yang menurutku sangat berpengaruh bagi kehidupan sosial:

Orientansi + Tujuan = Prinsip.

Menurutku, orientasi dan tujuan hidup membuat kita mengetahui batas-batas kemampuan dan harapan kita di masa depan. Selain itu, hal ini juga berguna bagi kita untuk menentukan langkah-langkah yang akan kita ambil dikemudian hari. Kita tidak harus mengikuti semua langkah atau cara orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, kita harus memilah dan memilih mana yang harus kita lakukan dan mana yang tidak. Kita akan mengetahuinya setelah kita menemukan atau membentuk prinsip hidup. Aku cukup yakin bahwa prinsip hidup memberikan kita sebuah keyakinan untuk tidak ragu menjadi berbeda dari orang lain. Prinsip hidup membantu terbentuknya pikiran yang kuat.

Belajar dari kesalahan tapi jangan salahkan dirimu.

Setiap tindakan dan perilaku seseorang pasti dapat menuai kesalahan. Namun, yang perlu diketahui adalah itu bukanlah kesalahan kita. Kita bisa jadi salah karena sedang berinteraksi atau berhadapan dengan seseorang yang memiliki latar belakang berbeda dengan kita. Apabila terjadi kesalahan menurut orang lain maka kita harus belajar untuk menambah referensi cara berperilaku dan bertindak sehingga kita bisa menjadi seseorang yang fleksibel dalam berinteraksi di kemudian hari. Ingat, kamu hanya sedang hidup di lingkungan yang tidak tepat!

Jadi teman-teman, dapat disimpulkan bahwa overthinking dan insecure bukan hanya persoalan psikologis tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial. Oleh karena itu, selain psikologis, kondisi sosial kita juga harus dirubah. Kita tidak harus selalu mendengarkan apa yang orang lain katakan tetapi jika itu membantu diri kita untuk menjadi lebih baik, kenapa tidak? Tapi perlu diingat juga nih, kita harus mampu berpikir dengan matang untuk mengambil keputusan dan berani untuk mengambil resiko. Kita adalah orang yang berharga di lingkungan yang tepat.

Selain memberikan pencerdasan melalui artikel, AkuKita Wanita juga memberikan tips and trick yang ditampilkan dalam bentuk newsletter.

Penulis : Raka, Head of Medium Creative Content

Editor : Anis, Head of Medium Strategic Implementation

Kontributor : Sarifatul, Head of Creative Promotion

Referensi:

Amalaa, A., 2019. Melepas Overthinking dengan 3M. [Online]
Available at: https://kampusitahnews.iain-palangkaraya.ac.id/berita/2019/03/23/melepas-overthinking-dengan-3m/
[Accessed 19 05 2021].

Hadi, A., 2020. Dampak Overthinking Bagi Kesehatan: Ganggu Pencernaan Hingga Otak. [Online]
Available at: https://tirto.id/dampak-overthinking-bagi-kesehatan-ganggu-pencernaan-hingga-otak-eDR6
[Accessed 19 05 2021].

Hayati, L., 2018. Konsep Diri Anak-Anak Aktif Media Sosial. Society, 6(Social Media), pp. 58–64.

Nareza, M., 2021. Seputar Refleksi Diri: Manfaat dan Cara Menerapkannya. [Online]
Available at: https://www.alodokter.com/seputar-refleksi-diri-manfaat-dan-cara-menerapkannya
[Accessed 19 05 2021].

Sholikhah, I., 2021. Tips Mengurangi Perasaan Insecure dan Overthinking pada Remaja. [Online]
Available at: http://genial.id/read-news/tips-mengurangi-perasaan-insecure-dan-overthinking-pada-remaja
[Accessed 20 05 2021].

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store