Memahami Kondisi Psikis Wanita Setelah Dilecehkan

Alasan Mengapa Lebih Memilih Diam

Image Credit AkuKita Wanita

Baru-baru ini kasus pelecehan seksual dari penyiar radio kepada penggemarnya banyak diperbincangkan oleh media. Kasus ini mulai ramai dibicarakan karena adanya pernyataan dari korban yang diunggah di media sosial, hingga kemudian menarik perhatian publik. Adanya pernyataan korban ini tentu diapresiasi oleh netizen, sebab untuk membagikan pengalaman tentang pelecehan bukanlah suatu hal yang mudah. Dikutip dari kompas.com, menurut psikolog klinis dari Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, M. Psi., banyak korban pelecehan seksual yang memilih untuk diam dan menyimpan ceritanya sendiri. Bentuk pelecehan yang ditemukan berupa pelecehan secara verbal dan nonverbal. Pelecehan secara verbal adalah pelecehan yang berkaitan dengan lisan, sedangkan pelecehan nonverbal adalah pelecehan yang melibatkan kontak fisik.

Kasus pelecehan seksual juga bisa dialami oleh anak-anak, seperti kasus pelecehan seksual yang terjadi di Pangkalpinang, saat korban — yang merupakan anak-anak — tengah melakukan salat isya. Dikutip dari liputan6, pelaku melakukan tindakannya dipicu oleh tontonan video porno. Oleh karena perbuatan tersebut, korban — yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar — mengalami trauma yang mendalam. Masih dikutip dari liputan6, kasus pelecehan seksual terhadap anak lainnya adalah kasus sodomi yang terjadi di Pesantren di Kabupaten Dolok, Sumatera Barat dan terungkap ketika salah seorang korban merasa sakit saat sedang buang air besar.

Dari contoh kasus di atas, dampak pelecehan seksual juga dapat dirasakan oleh orang dewasa, baik itu dari psikologis atau fisik. Dikutip dari halodoc, dampak yang dirasakan oleh korban pelecehan atau kekerasan seksual, berupa tekanan mental, dapat memicu stres berat yang kemudian menimbulkan beragam gejala pada fisik. Misalnya, nyeri otot, sakit kepala, bahkan masalah kesehatan fisik kronis, seperti tekanan darah tinggi dan masalah gula darah. Masalah kesehatan fisik jika dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan penyakit jantung. Adapula dampak psikologis korban kekerasan atau pelecehan seksual seperti mudah marah, merasa selalu tidak aman, mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, ketakutan, rasa malu yang besar, syok, frustasi, menyalahkan atau mengisolasi diri sendiri, stres, hingga depresi. Intinya, dampak yang dirasakan oleh korban pelecehan seksual biasanya akan memengaruhi kejiwaan berupa tekanan mental atau stres yang dapat berujung pada masalah kesehatan fisik.

Lantas, jika didasarkan pada dampak yang dirasakan korban pelecehan seksual, mengapa banyak korban yang enggan untuk melaporkannya atau lebih memilih bungkam? Dikutip dari klikdokter, korban enggan menceritakan pengalaman buruk tersebut disebabkan 4 hal, yaitu:

  • Stigma negatif masyarakat. Adanya stigma negatif dari masyarakat yang lebih menyudutkan korban. Inilah yang membuat mereka (korban) enggan untuk melaporkannya. Alhasil, daripada dituduh, mereka lebih memilih untuk menyimpan cerita tersebut rapat-rapat.
  • Trauma yang selalu muncul. Banyak korban pelecehan seksual yang tidak melaporkannya sebab tidak ingin mengungkit kembali pengalaman buruknya hingga menimbulkan rasa trauma yang berat. Akan tetapi, jika merasa lebih baik, korban biasanya menceritakan kepada orang terdekat seperti sahabat atau keluarga.
  • Pelaku mengancam korban. Pelaku pelecehan seksual biasanya berasal dari lingkungan yang sama dengan korban, tetapi dengan jabatan lebih tinggi, atau orang asing yang bertemu secara acak. Mereka biasanya akan mengancam korban untuk tidak melapor kepada pihak berwajib atau menceritakannya kepada siapa pun dengan dalih akan menyebarkan cerita pelecehan pada orang terdekatnya.
  • Tidak adanya bukti. Tidak selalu kejadian pelecehan seksual dilakukan pada tempat yang terpasang CCTV guna mempermudah korban untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Hal inilah yang kemudian mengurungkan niat korban untuk melaporkan tindakan tersebut.

Terlepas dari alasan yang telah dijelaskan di atas, masih belum dibenarkan akan tindakan bungkam dari seorang korban pelecehan seksual. Banyak yang mungkin berpikiran bahwa pelecehan seksual berawal dari tindakan korban yang mengundang pelaku untuk dapat melakukan tindakannya. Padahal, hal tersebut bukanlah salah korban, akan tetapi pelaku yang memang sejak awal memiliki niat untuk melakukan perbuatan tersebut. Seperti pernyataan Wakil Ketua Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, bahwa pelecehan seksual yang terjadi pada wanita bukanlah salah wanita atau pakaiannya. Dikutip dari kompas.com, pada data yang ditemukan, pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan tidak ada kaitannya dengan pakaian, bahkan bukan sebagai salah satu pemicu pula. Selain visual atau melihat, pelaku juga bisa melakukan pelecehan seksual dengan memegang atau meraba korban. Maka dari itu, bukan pakaiannya yang harus diperhatikan, tetapi pelaku. Sebab, menurut Mariana, sepanjang hidupnya, perempuan setidaknya pernah mengalami pelecehan seksual.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa stigma yang tertanam pada masyarakat tentang korban pelecehan seksual haruslah mulai diubah secara perlahan. Dengan menyalahkan korban tentang apa yang mereka kenakan atau mereka lakukan bukanlah hal yang dibenarkan, sebab wanita tentu memiliki kebebasan berpakaian serta kebebasan berperilaku sebagaimana laki-laki.

Berikut adalah ulasan dari kami, apabila kalian memiliki pendapat yang berbeda, sila tulis di kolom komentar, ya!

AkuKita Wanita juga memberikan pencerdasan di newsletter yang dikirim melalui e-mail dua minggu sekali.

Penulis: Vil Laura Murdiahtin N.

Editor: Azaina Farah Sabrina

Sumber:

Apriyono, A. (2021, Mei 20). Sumatera. Retrieved Juni 29, 2021, from Liputan6: https://www.liputan6.com/regional/read/4562516/pelaku-pelecehan-seksual-di-masjid-pangkalpinang-tertangkap-statusnya-masih-pelajar

Harlina, N. (2021, Juni 4). Sumatera. Retrieved Juni 29, 2021, from Liputan6: https://www.liputan6.com/regional/read/4573664/bejat-pengasuh-ponpes-di-solok-sodomi-santri-pakai-iming-iming-main-game

Inge, N. (2021, Mei 19). Sumatera. Retrieved Juni 29, 2021, from Liputan6: https://www.liputan6.com/regional/read/4561392/sudah-lapor-polisi-korban-pelecehan-di-masjid-di-pangkalpinang-alami-trauma

Maharani, A. (2020, Februari 17). Info Sehat. Retrieved Juni 29, 2021, from klikdokter: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3637231/mengapa-korban-pelecehan-seksual-cenderung-diam

Perkasa, G. (2020, Juli 02). Lifestyle. Retrieved Juni 29, 2021, from Kompas.com: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/02/192144320/komnas-perempuan-pelecehan-seksual-bukan-salah-cara-berpakaian-perempuan

Tashandra, N. (2021, Juni 6). Lifestyle. Retrieved Juni 29, 2021, from Kompas.com: https://lifestyle.kompas.com/read/2021/06/10/083026620/speak-up-bisa-bantu-korban-pelecehan-seksual-hadapi-masalahnya?page=1

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
AkuKita Wanita

AkuKita Wanita

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

More from Medium

The Best Accessibility Features You’ve Never Heard Of

Angie C on BCI-driven Sound and Her Passion for Blending Music with Neuroscience

Loss, love, existentialism and Fleabag

User Interviews: Applying the Why, When, and How Technique For a Better UX.