Humor Seksis di Dunia Komedi Indonesia

Perempuan sebagai Objek Lelucon

Image Credit AkuKita Wanita

Mungkin kalian sering mendengar salah satu penggalan lelucon: “Maju kena mundur kena” dari film komedi Warkop DKI, atau jika kalian penggemar Srimulat, mungkin kalian sering mendengar lawakan seksis mereka yang menggunakan perempuan sebagai objeknya. Jenis lawakan semacam ini dapat disebut dengan humor seksis. Dikutip dari , humor seksis juga termasuk humor penghinaan atau yang artinya merendahkan beberapa kelompok sosial. Gaya lelucon macam ini merupakan lelucon lawas yang sering kita jumpai di berbagai media, baik itu televisi, radio, hingga koran.

Dikutip dari , Ian Wilkie, dosen seni pertunjukan di University of Salford, dalam artikel di menulis bahwa dalam komedi lama, menjadikan bentuk tubuh, ras, warna kulit, kepercayaan, seksualitas, disertai dengan ungkapan seksis dan misoginis sebagai bahan bercanda adalah hal yang biasa.

Masih dikutip dari , fenomena ini berhubungan dengan teori humor dari Draket, dkk (2018) yang menganalisis adanya praktik pelecehan perempuan serta kelompok minoritas lainnya. Tiga teori humor yang berkembang ialah teori superioritas, teori ketidaksesuaian, dan teori pelepasan. Pertama, teori superioritas adalah teori humor yang bersumber dari kemalangan atau penderitaan orang lain, atau yang sering kita sebut sebagai “tertawa di atas penderitaan orang lain”. Selanjutnya, teori ketidaksesuaian adalah guyonan yang mengarahkan penonton ke satu arah, kemudian mengejutkan mereka dengan hasil yang berbeda dari yang diharapkan. Terakhir, teori pelepasan merupakan sebuah lawakan yang dijadikan wadah untuk menghilangkan stres serta pelepasan dari ketegangan psikologis.

Atas dasar inilah, humor seksis, yang terinspirasi dari para komedian dengan gaya lelucon ini, masih sering kita dengar atau lihat di berbagai media sosial hingga kini. Dikutip dari , bukan hanya lazim di budaya populer, lelucon seksis masih dianggap wajar di segala tatanan kehidupan di Indonesia, seperti keluarga, sekolah, lingkungan kerja, politik, maupun pergaulan sehari-hari.

Biasanya humor seksis dilontarkan untuk memperkuat ikatan tanpa menghiraukan perasaan perempuan yang dijadikan objek lawakan mereka. Bukan hanya laki-laki yang sering melontarkan komentar atau humor seksis, tetapi perempuan juga sering melakukannya kepada sesama perempuan atau gender lain atas dasar “kan cuma bercanda”.

Hal ini tentu salah, mengingat jika komentar atau humor seksis ini terus dilontarkan akan membawa dampak negatif bagi mereka yang dijadikan objek, hingga dapat melanggengkan adanya deskriminasi gender atau kelompok minoritas lain.

Bahkan, dikutip dari , menurut Susan Krauss Whitbourne, professor emerita University of Massachusetts Amherst, humor seksis merupakan upaya menutupi pandangan merendahkan terhadap perempuan agar bisa diterima secara sosial.

Lantas, mengapa tidak boleh menoleransi humor seksis? Humor merupakan suatu yang selalu dicari seseorang setiap harinya. Akan tetapi, memberi toleransi pada humor seksis akan membuat seksisme serta pelecehan seksual menjadi lumrah atau umum dilakukan. Akibatnya, perendahan martabat perempuan tidak pernah berakhir sehingga akan sia-sia bagi aktivis yang menuntut kebebasan perempuan jika sebuah lelucon masih menjadikan perempuan sebagai objeknya.

Oleh karena itu, jika kalian mendengar humor seksis yang dilontarkan oleh teman atau orang terdekat, yang patut kalian lakukan ialah tidak ikut tertawa bersama. Kalau kita ikut tertawa bersama mereka, maka secara tidak langsung kita juga menyetujui perilakunya, dan mereka tidak sadar bahwa hal tersebut adalah salah. Kita juga dapat menegur jika dijadikan sebagai objek humor seksis. Namun, sayangnya, hingga kini kita masih banyak menemui orang yang memilih untuk ikut tertawa demi dianggap asyik oleh sekitarnya.

Kalau untuk teman-teman sendiri, apakah kalian sudah pernah mengingatkan seseorang tentang humor seksis yang dilontarkan?

AkuKita Wanita juga memberikan pencerdasan di newsletter yang dikirim melalui e-mail dua minggu sekali.

Penulis: Vil Laura Murdiahtin N.

Editor: Azaina Farah Sabrina

Sumber:

Linggasari, Y. (2016, Juli 17). . Retrieved Juli 19, 2021, from rappler: https://www.rappler.com/world/mengapa-kita-perlu-berhenti-menertawakan-humor-seksis

Novira, N. (2020, Juli 03). . Retrieved Juli 19, 2021, from Yaysan Pulih: http://yayasanpulih.org/2020/07/humor-seksis-please-jangan-dilakuin/

Primastika, W. (2019, Juni 26). . Retrieved Juli 19, 2021, from tirto.id: https://tirto.id/ketika-lelucon-seksis-tak-lucu-lagi-ec4W

Ruang Sharing dan Diskusi Menjadi Titik Temu Kita | Find out More → https://linktr.ee/akukitawanita

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.